Dalam balap motor berkecepatan tinggi, beban fisik yang ditanggung pembalap sangat besar, terutama pada otot leher yang harus menahan gaya gravitasi dan tekanan angin. Pertanyaan krusial yang perlu dijawab adalah seberapa jauh efisiensi helm balap dalam hal aerodinamika dan bobot dapat secara signifikan mengurangi beban kelelahan pada leher pembalap selama sesi balap yang panjang. Penelitian terbaru dari IMI menunjukkan bahwa helm dengan desain aerodinamis yang optimal dan bobot ringan (di bawah 1.300 gram) dapat mengurangi beban otot leher hingga 25% pada kecepatan di atas 200 km/jam, dibandingkan helm konvensional yang lebih berat dan kurang ramah angin. Melalui analisis efisiensi aerodinamika helm, terungkap bahwa spoiler dan bentuk ekor helm yang dirancang untuk mengalirkan udara dengan lancar sangat menentukan besarnya gaya angkat dan hambatan yang harus dilawan oleh leher pembalap.
Beban kelelahan pada leher terjadi karena gaya sentrifugal saat membelok dan gaya dorong angin saat melaju di lintasan lurus, yang keduanya harus ditahan oleh otot-otot leher untuk menjaga kepala tetap stabil dan pandangan tetap fokus ke depan. Helm yang berat atau memiliki aerodinamika buruk akan menambah beban ini secara eksponensial seiring dengan peningkatan kecepatan. Penelitian ini mengukur kelelahan leher pembalap dengan memasang sensor EMG (elektromiografi) pada otot sternokleidomastoideus dan trapezius dari 20 pembalap selama menjalani sesi latihan di sirkuit, menggunakan dua jenis helm dengan bobot dan desain yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa helm dengan desain aerodinamis yang baik secara konsisten menghasilkan tingkat aktivasi otot yang lebih rendah dan menunda timbulnya kelelahan hingga 15 menit lebih lama.
Salah satu temuan penting adalah bahwa faktor bobot helm, meskipun penting, memiliki pengaruh yang lebih kecil pada kecepatan tinggi dibandingkan dengan faktor aerodinamika. Pada kecepatan rendah (di bawah 150 km/jam), bobot helm lebih dominan, tetapi pada kecepatan balap, gaya angkat dan hambatan udara menjadi beban utama. Hal ini menunjukkan bahwa pengurangan beban helm harus dicapai dengan pendekatan holistik yang mempertimbangkan desain eksterior, material cangkang, dan sistem ventilasi. Temuan ini mendorong IMI untuk merekomendasikan standar aerodinamika helm balap yang lebih ketat, serta mendorong produsen untuk terus berinovasi dalam material komposit yang ringan dan kuat.
Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti pentingnya latihan penguatan otot leher sebagai bagian dari program kebugaran pembalap, karena helm terbaik pun tidak dapat sepenuhnya menghilangkan beban yang harus ditahan. Dengan memahami efisiensi helm balap, setiap pembalap dapat memilih helm yang paling sesuai dengan gaya berkendara dan kondisi fisik mereka, serta mengoptimalkan posisi berkendara untuk meminimalkan beban aerodinamis. Pada akhirnya, investasi pada helm berkualitas tinggi dengan aerodinamika superior adalah investasi untuk kenyamanan, konsistensi performa, dan keselamatan jangka panjang di lintasan balap yang kompetitif.