Persaingan sengit antara Jawa Tengah (IMI Jateng) dan Jawa Barat (IMI Jabar) di dunia olahraga otomotif kini tidak hanya terjadi di lintasan balap, tetapi juga bergeser ke arena finansial: siapa yang paling royal biayai pembalap muda mereka? Kedua provinsi, yang secara historis menjadi kiblat balap motor dan mobil nasional, kini terlibat dalam semacam ‘perang sirkuit’ untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik sejak usia dini.
Persaingan antara IMI Jateng dan IMI Jabar ini berakar dari kesadaran bahwa investasi pada pembalap muda adalah kunci untuk dominasi masa depan. IMI Jabar, yang dikenal memiliki sirkuit permanen dan dukungan industri yang lebih besar, seringkali menawarkan paket biayai yang komprehensif, mencakup biaya entry, perawatan motor, hingga akomodasi selama seri balap berlangsung. Mereka berupaya menciptakan jalur mulus bagi atlet.
Namun, IMI Jateng tidak tinggal diam. Meskipun mungkin memiliki dukungan infrastruktur sirkuit yang lebih terbatas, IMI Jateng mengimbanginya dengan fokus pada program beasiswa dan kemitraan dengan BUMD lokal untuk biayai pembalap muda. Mereka cenderung lebih fokus pada pembinaan karakter dan networking ke tingkat nasional, mencari sponsor di luar platform tradisional untuk memastikan atletnya dapat bersaing tanpa terbebani biaya yang mahal.
Pertanyaan mengenai siapa yang paling royal biayai pembalap muda menjadi indikator penting dalam regenerasi atlet nasional. Jika dukungan finansial tidak memadai, banyak talenta berbakat dari keluarga kurang mampu terpaksa harus menggantungkan helm balap mereka lebih awal. Baik IMI Jateng maupun IMI Jabar menyadari bahwa uang adalah faktor penentu keberlangsungan karier. Oleh karena itu, lobby dana menjadi sangat intensif.
Para stakeholder di kedua kubu, baik IMI Jateng maupun IMI Jabar, kini berlomba-lomba untuk memamerkan program pendanaan terbaik mereka. IMI Jabar mungkin unggul dalam jumlah total yang diinvestasikan, tetapi IMI Jateng seringkali lebih fleksibel dalam menyediakan dana tunai dan subsidi peralatan. Persaingan ini, meskipun panas, pada akhirnya memberikan dampak positif bagi pembalap muda karena mereka menjadi objek perebutan yang menguntungkan.
Fenomena ‘perang sirkuit’ antara IMI Jateng dan IMI Jabar ini juga memicu peningkatan kualitas program pelatihan. Instansi yang ingin biayai pembalap muda kini menuntut hasil yang lebih konkret, memaksa kedua IMI provinsi untuk meningkatkan kualitas pelatih, mekanik, dan fasilitas latihan. Kualitas pembalap muda pun ikut terangkat akibat kompetisi sehat di tingkat manajemen ini.